Ilam Maolani

Anak Gunung Galunggung dari Kampung Rawa Sindangraja Desa Linggawangi Kec. Leuwisari Kab. Tasikmalaya. Berusaha untuk mewariskan 'keabadian' lewat menulis...

Selengkapnya
MENJEMPUT KEBERKAHAN RAMADAN

MENJEMPUT KEBERKAHAN RAMADAN

Tamu agung, spesial dan istimewa itu sebentar lagi akan datang. Marhaban Ya Ramadhan 1439 H. Selamat datang Syahru al-Mubarok, bulan keberkahan. Bulan yang jiyaadatul khair. Ramadan yang penuh dengan tambahan kebaikan. Nilai ibadah dilipatgandakan, doa-doa dikabulkan, dosa diampuni, pintu surga dibuka, sementara ‘pintu neraka ditutup’. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah, Rasul saw. bersabda, "Bila Ramadan telah datang, maka dibukakan pintu surga, dikunci pintu neraka, dan dibelenggu semua setan." Dalam riwayat yang sama, Rasul saw. bersabda,"Bila Ramadan telah datang, maka dibukakan pintu rahmat, dikunci neraka jahanam, dan dirantai semua setan." Itu artinya bahwa di bulan Ramadan kesempatan untuk meraih pahala dan menjauhi dosa sangat terbuka lebar dibandingkan dengan bulan-bulan yang lainnya.

Maka wajar Ramadan selalu dinanti-nanti kedatangannya, rugilah orang yang tidak dapat bertemu dengannya. Akan lebih rugi lagi bagi mereka yang menjumpainya, namun tidak dapat mengambil sesuatu yang bermanfaat dari keberkahan yang ada di dalamnya.

Kekhususan lain pada bulan Ramadan adalah ada satu perintah dari Allah Swt., yaitu ibadah shaum, yang diwajibkan pada tahun ke-2 Hijriyah di akhir bulan Syaban. Firman-Nya: "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan kepadamu shaum sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu menjadi orang yang bertakwa. (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu." (Al-Baqarah: 183-184).

Menurut Sulaeman An-Nuri dan Ali Abbas Al-Maliki, dalam kitab Ibanatul Ahkam Jilid 2 (1993: 367), shaum secara bahasa berarti imsak (menahan). Adapun menurut syara, shaum adalah menahannya seorang mukallaf dari nafsu perut dan kemaluan sejak terbit fajar sampai terbenam matahari. Jika shaum yang kita laksanakan tidak mampu menahan diri dari nafsu duniawi dan batiniah, maka akan berakhir dengan kegagalan, gagal dalam memenuhi harapan takwa seperti yang disebutkan dalam ayat di atas. Hal inilah yang oleh hadits riwayat Bukhari dari Abu Hurairah, disabdakan Rasul saw., "Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan kotor dan melakukan perbuatan yang jahat, maka bagi Allah Swt. tidak butuh terhadap orang yang meninggalkan makan dan minumnya."

Shaum merupakan perisai/penahan dari segala serangan dan godaan setan. Dalam sebuah hadits qudsi yang diriwayatkan Bukhari, diterima dari Abu Hurairah, Rasul saw. bersabda, Allah berfirman: "Setiap amal bani Adam baginya, kecuali shaum. Shaum itu bagi-Ku, dan Akulah yang akan membalasnya. Shaum itu merupakan perisai. Apabila pada hari itu seseorang diantara kalian melakukan shaum, maka janganlah berkata kotor dan berbuat jahat. Jika ada orang yang mencela atau menyerangnya, maka ucapkanlah: Aku sedang bershaum. Dan demi jiwa Muhammad yang berada di bawah kekuasaan-Nya, sesungguhnya bau mulut orang yang sedang shaum itu lebih harum di sisi Allah melebihi harumnya minyak misk (kesturi). Bagi yang shaum mempunyai dua kegembiraan, yaitu gembira ketika ia berbuka dan gembira ketika bertemu dengan Tuhannya." (Kitab Shahih Bukhari, 1994: 398).

Bagi orang yang shaum, di surga nanti akan masuk melalui pintu yang namanya Ar-Rayyan. Bukhari meriwayatkan dari Abu Sahl, bahwa Rasul saw. bersabda, "Sesungguhnya di dalam surga itu ada sebuah pintu yang disebut Ar-Rayyan. Pada hari kiamat, orang-orang yang shaum masuk ke surga dari pintu itu. Tidak seorangpun masuk dari pintu itu selain mereka. Mereka dipanggil,Mana orang yang shaum? Lalu mereka berdiri. Tak seorangpun masuk dari pintu itu selain mereka. Setelah mereka masuk, pintu segera dikunci, maka tidak seorang pun lagi yang dapat masuk." (Kitab Shahih Bukhari, 1994: 396).

Sangat disesalkan apabila datangnya keberkahan Ramadan yang diiringi dengan adanya shaum tidak dijemput oleh umat Islam dengan riang gembira, senang dan bahagia. Jemputlah tamu itu dengan memberdayakan aktivitas-aktivitas bernilai ibadah, antara lain:

Pertama, aktivitas ruhiyyah. Kegiatan yang berkaitan dengan hati atau jiwa seseorang. Sambutlah Ramadan dengan penuh suka cita, tidak sedih dan jangan merana, apalagi merasa bosan dan berputus asa. Jadikan bulan ini sebagai bulan peningkatan dan pemeliharaan keimanan dan keikhlasan. Modal iman dan ikhlas inilah yang akan memberi efek diampuninya dosa-dosa kita yang telah lalu oleh Allah Swt. Rasul saw. bersabda,"Barangsiapa yang shaum Ramadan dengan didasari iman dan ikhlas, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (H.R. Bukhari-Muslim).

Kedua, aktivitas jasadiyyah. Manfaatkan kekuatan fisik atau badan ini untuk melakukan aktivitas positif seperti tetap bekerja mencari rezeki, salat fardu yang lima waktu, salat qiyamu ramadan, tadarus al-Quran, berbuka, sahur, dan lain-lain. Asupan gizi agar tubuh ini kuat perlu tersedia, seperti kurma, madu, buah-buahan, dan makanan serta minuman lainnya.

Ketiga, aktivitas fikriyyah. Berkaitan dengan kegiatan berpikir yang melibatkan otak, maka gunakan otak ini untuk menyerap ilmu yang bertebaran selama bulan Ramadan. Bulan ini menjamur aktivitas yang dapat dijadikan sebagai sumber ilmu pengetahuan agama, seperti kuliah subuh, kuliah tujuh menit (kultum) sebelum salat tarawih, kultum sebelum berbuka shaum, pesantren kilat, kajian al-Quran dan al-Hadits, pengajian fiqih Shaum, dan sebagainya. Teramat sayang jika ilmu pengetahuan agama itu dilewatkan dan dibiarkan berceceran tanpa kita menjemputnya.

Keempat, aktivitas maliyyah. Kegiatan yang berhubungan dengan harta. Harta tidak dimaksudkan untuk membeli kebutuhan berbuka dan sahur yang mewah dan mahal bahkan kadang terkesan berlebihan. Harta diperuntukkan untuk menopang ibadah sedekah atau infak, mendukung pemenuhan kewajiban zakat fitrah maupun zakat mal.

Terakhir, mari kiat niat dan azamkan dalam diri masing-masing untuk mengisi bulan Ramadan ini dengan aktivitas bernilai ibadah sebagai perwujudan penjemputan keberkahan Ramadan dalam upaya mencapai derajat takwa (muttaqin). Semoga.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Wah sangat informatif, kereen salam literasi

14 May
Balas

Sama sama pa..salam kenal..semoga bpk sukses dlm segala aktivitasnya

15 May

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali